Sanitasi Total Berbasis Masyarakat : Solusi Jamban yang Aman

Hnews.idfoto/2021

Hnews.id | Masalah-masalah kesehatan masyarakat yang klasik saat ini masih tetap dihadapi Indonesia, selain masalah kesehatan terkini seperti pandemi Covid-19. Masalah-masalah kesehatan klasik tersebut diantaranya; masalah sanitasi dasar, khususnya yang berkaitan dengan pembuangan tinja yang masih belum aman. Data Riskesdas tahun 2018, terlihat bahwa proporsi perilaku buang air besar di jamban, terutama penduduk yang berumur ≥ 10 tahun belum mencapai 100% (88,2%). Ini artinya 11,8% dari penduduk Indonesia masih buang tinja sembarangan. Untuk proporsi cara penanganan tinja balita di rumah tangga pada perkotaan dengan menggunakan jamban hanya sebesar 40,6% dan di pedesaan hanya sebesar 34,6%. Sisanya masih dibuang sembarangan. Di lapangan masih terlihat pembuangan tinja sembarangan misalnya saja di empang, di sungai, atau di saluran air.

Tinja yang dibuang sembarangan, dapat menularkan berbagai macam penyakit seperti diare, disentri, kecacingan, dan lain-lain. Implikasi perilaku membuang tinja sembarangan juga akan berdampak ke yang lain misalnya balita stunting dan penurunan pendapatan. Sesungguhnya bila kita kulik lebih dalam masalah tinja tidak hanya sebatas buang tinja di jamban. Tetapi menyangkut penduduk yang tidak memiliki fasilitas buang air besar atau memiliki tetapi tidak digunakan. Juga meliputi penduduk yang memiliki fasilitas buang air besar tetapi tidak disalurkan ke unit pengolahan tetapi disalurkan ke sungai, ke kolam, ke sawah, dan lain-lain. Penduduk menggunakan closet leher angsa tetapi masih disalurkan ke “cubluk”. Penyaluran tinja ke “cubluk” masih menimbulkan masalah, yakni terjadinya pencemaran air tanah yang mana sebagai sumber air minum. Pembuangan tinja yang aman adalah penduduk yang sudah memiliki fasilitas sanitasi sendiri dengan leher angsa dan disalurkan ke tangki septic yang disedot minimal 5 tahun sekali, atau disalurkan ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Dalam rangka mewujudkan pembuangan tinja yang aman pemerintah telah melakakan berbagai upaya diantaranya dengan program percepatan pembangunan sanitasi pemukiman melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 648-607/Kep/Bangda/2012 tentang Penetapan Kabupaten/Kota Peserta Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Pemukiman dan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.

Program sanitasi total berbasis masyarakat adalah suatu pendekatan untuk mengubah prilaku higienis dan saniter masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan. Yang dimaksud pemicuan adalah cara untuk mendorong perubahan prilaku higienis dan saniter individu atau masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran dengan menyentuh perasaan, pola pikir, perilaku dan kebiasaannya. Ada lima hal atau dikenal dengan lima pilar dalam STBM yaitu; stop buang besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengamanan sampah rumah tangga dan pengamanan limbah cair rumah tangga.

Ada prinsip mendasar yang diterapkan dalam metode pemicuan ini yaitu; fasilitator tidak boleh menggurui, tidak boleh mengajari, tidak boleh memberitahukan konstruksi jamban yang baik dan tidak boleh menawarkan bantuan. Tetapi fasilitator hanya diperbolehkan memfasilitasi proses, meminta pendapat dan mendengarkan aspirasi warga masyarakat, membiarkan individu menyadari sendiri tentang pentingnya memiliki jamban yang aman, membiarkan mereka berkreativitas membangun jamban dengan kemampuan sendiri tanpa subsidi. Namun pelaksanaan STBM ini diperkotaan menghadapi dilema yang menjadi penghabat laju pembangunan jamban. Di satu sisi pemicuan memegang prinsip tanpa bantuan, di sisi lain pemerintah daerah menganggarkan bantuan pembangunan jamban namun tidak cukup. Akhirnya masyarakat yang tidak memiliki jamban menunggu bantuan, alih-alih membangun jamban dengan kemampuan sendiri. Yang pada ujungnya masalah tinja tidak selesai entah sampai kapan. 

Untuk mengatasi masalah tinja ini, metode pemicuan sebagaimana yang diterapkan dalam program STBM patut untuk terus dilaksanakan. Namun diperlukan relawan-relawan yang memiliki jiwa kepemimpinan yang mumpuni. Tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan dan para birokrat di masing-masing wilayah yang masih memiliki masalah tinja adalah pihak-pihak potensial menjadi relawan-relawan. Relawan-relawan tersebut harus memiliki jiwa kepemimpinan yang mumpuni antara lain; energik atau tidak kenal lelah untuk mengatasi masalah tinja. Harus memiliki motivasi yang kuat, harus memiliki kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat, harus memiliki kecakapan sosial, harus memiliki pengetahuan yang baik di bidang kesehatan masyarakat. Relawan sebagai seorang pemimpin harus bisa mempengaruhi dan menginspirasi dan menghargai kreatifitas masyarakat dalam mengentaskan masalah tinja di daerahnya. Dengan demikian masalah tinja yang kita hadapi sampai detik ini akan bisa selesai.

Related posts