5 Strategi Pola Pikir Bagi Pemimpin Saat Krisis

Hnews.idfoto/2021

Hnews.id | Saat ini, masyarakat di seluruh dunia sedang terjangkit penyakit Coronavirus 2019 atau yang biasa disebut COVID-19. Berdasarkan data dari WHO per tangal 20 mei 2021 sudah terdapat 113 negara yang terjangkit covid dengan 165.523.894 orang terkonfirmasi dan 3.412.032 yang meninggal. Wabah ini sangat berdampak luas, tentunya sangat menginspirasi para pemimpin, baik di sektor bisnis maupun sektor-sektor lainnya untuk selalu berkembang, dan bisa bertahan dalam situasi wabah ini.

Menurut Arnold Howitt and Herman B. Leonard, 2019 dalam situasi krisis terdapat banyak sesuatu yang baru, tidak biasa (unfamiliarity), tidak pasti serta perlu dilakukan penyesuaian besar untuk memberikan respon secara efektif. Respon efektif saat ini hanya tindakan sementara yang belum mampu membuat sebuah sistem berjalan maksimal dalam pengaplikasiannya (misalnya adanya penerapan kebijakan “work from home”). Kebijakan work from home tersebut sebuah terobosan yang paling efektif saat ini untuk mencegah penularan, namun kebijakan tersebut masih terdapat kekurangan dalam pelaksanannya. Hal tersebut yang membuat pemimpin harus berfikir visioner dan kreatif, agar sebuah sistem dapat berjalan dengan efektif, produktif dan dapat mempertahankan jalannya bisnis bahkan setelah krisis berlalu. McKinsey & Company, 2020 juga mengungkapkan bahwa penanganan sebuah krisis bukanlah penanganan yang sudah terencana sebelumnya, namun perilaku dan pola pikir yang dapat mengendalikan terjadinya reaksi yang berlebih terhadap sebuah krisis dan cara menghadapi tantangan kedepan.

Dari hal tersebut Kinsey menerapkan 5 strategi pola pikir yang dibutuhkan pemimpin saat terjadinya krisis.

1. Membentuk jaringan satuan tugas (Satgas)

Dalam situasi krisis ini banyak pemimpin dihadapkan dengan masalah baru, dan sulit dalam mengambil keputusan secara cepat. Karenanya, pemimpin diharapkan dapat menggerakkan organisasi secara lebih baik, dengan menetapkan prioritas penanganan dan memberdayakan bawahan untuk mencari, serta menerapkan solusi untuk mendukung prioritas-prioritas yang ada. Pembentukan satgas efektif, akan mampu mendorong penyelesaian masalah dengan cepat dalam kondisi di bawah tekanan dan ketidakpastian. Namun hal ini juga dibutuhkan peran pemimpin bahwa respon tindakan tidak selamanya bersifat top-down akan membawa stabilitas. Dalam masa darurat, pada umumnya pemimpin harus bisa mengandalkan struktur command-and-control untuk mengelola kegiatan operasional secara baik dan menerapkan respon yang terencana. Para pemimpin harus mampu mendorong kolaborasi dan transparansi di seluruh jaringan tim, salah satu caranya adalah dengan mendistribusikan kewenangan, berbagi informasi, dan menunjukkan bagaimana seharusnya tim tersebut bekerja dengan baik.

2. Memperkuat karakter pemimpin dalam masa krisis

Keadaan dalam masa kriris, pengalaman merupakan hal yang paling berharga bagi para pemimpin. Namun, dalam keadaan darurat berskala luas dan tidak tahu kapan akan berakhirnya, karakter seorang pemimpin merupakan hal yang lebih penting. Pemimpin yang tanggap akan keadaan krisis harus mampu menyatukan tim untuk mencapai satu tujuan dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang sudah dikaji oleh tim. Pemimpin terbaik dalam krisis mampu menunjukkan beberapa karakter. Salah satunya adalah sikap tenang yang diperhitungkan atau “deliberate calm”. Kemampuan tersebut mampu melepaskan diri dari situasi cemas dan berpikir jernih dengan cara mengendalikan situasi tersebut. Ciri dari “deliberate calm” adalah ketenangan yang penuh perhitungan hal ini sering ditemukan pada individu berpengalaman yang rendah hati serta profesional. Selain itu mempunyai sikap optimisme yang realistis atau “bounded optimism” juga sangat dibutuhkan, yaitu sikap percaya diri yang didasarkan oleh realita. Fakta yang terjadi banyak pemimpin yang di awal krisis sudah menunjukkan kepercayaan diri berlebihan terhadap keadaan yang benar-benar sulit, hal tersebut dapat membuat kehilangan kredibilitasnya. Akan lebih efektif jika para pemimpin menunjukkan sifat optimisme, bahwa organisasi akan menemukan solusi dalam situasi sulit yang dihadapi, dan bahwa mereka menyadari ketidakpastian yang diakibatkan oleh krisis, serta upaya menghadapinya dengan mengumpulkan lebih banyak informasi.

3. Berhati – hati dan berani dalam mengambil keputusan di tengah ketidakpastian

Situasi Covid yang berlangsung saat ini banyak para pemimpin, sulit dalam mengambil keputusan. Terlambatnya dalam mengambil keputusan serta tindakan merupakan kesalahan umum yang dilakukan para pemimpin dalam masa krisis. Pemimpin yang baik harus mampu mengumpulkan informasi, seiring dengan perkembangan krisis yang terjadi serta mengamati seberapa baik respon yang telah diberikan. Terdapat dua perilaku yang dapat membantu para pemimpin dalam menghadapi situasi krisis. Perilaku pertama, disebut dengan updating atau pembaruan, perilaku tersebut melibatkan kegiatan untuk merevisi ide-ide berdasarkan informasi terbaru dan pengetahuan yang dikembangkan oleh tim. Perilaku yang kedua adalah doubting atau meragukan, perilaku ini membantu para pemimpin mempertimbangkan secara kritis tindakan yang sedang dilakukan dan tindakan yang akan dilakukan, kemudian memutuskan apakah tindakan tersebut perlu dimodifikasi, diadopsi, atau dibuang.

4. Berempati

Dalam krisis berskala luas, fokus utama para karyawan adalah kelangsungan hidup dan kebutuhan dasar mereka. Apakah saya terjangkit? Bagaimana dengan keluarga saya? Apa yang akan terjadi kemudian? Siapa yang akan merawat kami? Semua itu adalah kekhawatiran para karyawan yang terjadi saat krisis. Para pemimpin serharusnya bisa memahami situasi tersebu,t dan pada saat krisis adalah saat yang paling penting bagi para pemimpin, untuk memperkuat aspek penting dalam peran kepemimpinan mereka yaitu membuat perubahan positif dalam kehidupan banyak orang. Penting bagi para pemimpin untuk tidak hanya menunjukkan rasa empati, tetapi juga membuka diri untuk menerima empati dari orang lain, serta memberikan kesempatan kepada kolega atau staf untuk menyampaikan keresahan dan mendengar apa yang mereka sampaikan dengan tidak melupakan kesehatan diri sendiri.

5. Komunikasi efektif

Pemimpin sering kali mengkomunikasikan krisis dengan cara yang kurang tepat dan efektif. Dari waktu ke waktu, kita melihat para pemimpin yang terlalu percaya diri, menyampaikan nada optimis di tahap awal krisis. Hal tersebut seringkali menjadi boomerang bagi para pemimpin dalam membuat sebuah penyampaian komunikasi. Komunikasi yang baik bagi para pemimpin adalah adanya sebuah kebijakan dan memahami situasi dengan menyesuaikan respon seiring dengan bertambahnya informasi yang dipelajari. Hal ini membantu pemimpin meyakinkan kolega bahwa mereka sedang melakukan upaya untuk menghadapi krisis. Pemimpin harus mampu memberikan perhatian khusus kepada kolega dalam menjawab segala kekhawatiran, pertanyaan, dan keingintahuan. Memberikan kesempatan kepada anggota tim serta kolega dalam menaggulangi krisis secara langsung serta memberikan kesempatan untuk menyampaikan apa yang mereka lakukan dapat menjadi cara yang sangat efektif.

Jadi menurut penulis bahwa pandemi virus corona ini menguji para pemimpin semua sektor di seluruh dunia, dengan konsekuensi krisis ini dapat berlangsung cukup lama dan dapat menimbulkan kesulitan yang lebih besar. Namun, suatu sistem harus tetap berjalan seoptimal mungkin dengan harapan semua ini akan berakhir.

Related posts