Kesehatan Mental di Masa Pandemi Covid-19

capturevidio.com/foto2021

Hnews.id | Masa pandemi sudah berlangsung kurang lebih satu tahun. Penyebaran virus Covid-19 yang sangat cepat, sehingga beberapa sektor di setiap negara banyak yang tidak beroperasi, dan harus melakukan pembatasan jarak atau mulai menetapkan lockdown di beberapa wilayah yang memiliki potensi penyebaran. Hal ini juga berpengaruh besar bagi Indonesia, hampir seluruh sektor berhenti beroperasi sementara waktu, mulai dari dunia pendidikan dan pekerjaan yang semula berjalan normal beralih menjadi online. Bukan hanya itu saja, di era Covid-19 ini juga membuat beberapa sektor Kesehatan menjadi semakin sibuk, karena lonjakan kasus terindikasi positif terus meningkat hanya hitungan jam saja.

Pandemi Covid-19 menjadi momok mengerikan bagi mereka yang memiliki kekurangan ekonomi. Juga bisa memicu masalah kesehatan mental. Masalah mental seperti kita ketahui bersama, adalah masalah yang utamanya mengganggu kejiwaan dari seseorang, bahkan bisa mengganggu kesehatan jiwa masyarakat. Perlu pertanyaan kita, apakah pelayanan kesehatan mental sudah berjalan sebagaimana mestinya di saat pandemi Covid-19 ini? seperti yang kita ketahui melalui beberapa media massa baik televisi ataupun koran harian, semenjak Corona semua sistem Kesehatan berfokus pada penanganan pasien terkonfirmasi Covid-19. Tapi tidak berarti pemerintah mengabaikan begitu saja masalah kesehatan mental ini. Karena masalah kesehatan mental ini merupakan menjadi salah satu aspek terpenting untuk mencapai sistem kesehatan dan pelayanan yang efektif, terutama pelayanan penghentian penyebaran virus Covid-19 di Indonesia.

Di tahun 2020 bertepatan pada Hari Kesehatan Mental Sedunia Oktober lalu, WHO menyampaikan pesan bahwa selama pandemi berlangsung, beragam masalah mulai muncul, bahkan salah satunya mengenai perubahan sikap masyarakat hingga menyimpang ke masalah mental. Bahkan dalam hal ini WHO menyampaikan bahwa Kesehatan mental merupakan salah satu pelayanan Kesehatan, yang memiliki peran penting dari sisi psikologis masyarakat. Beberapa kasus telah ditemukan, bahkan survei telah memberikan bukti hampir 1 miliyar orang mengalami gangguan mental dan bahkan 3 juta diantaranya meninggal akibat masalah mental. Begitu juga di zaman pandemi seperti ini juga bisa berdampak negatif bagi psikis seseorang.

Menurut penulis bahwa pemberian motivasi dan nasihat pada pasien Covid-19 amat sangat dianjurkan, karena siapapun pasti akan mengalami hal demikian mengingat kasus Covid-19 terus meningkat. Bahkan gangguan mental seperti depresi juga bukan hanya terjadi di kalangan pasien saja, ada juga beberapa dokter yang mulai mengalami gangguan frustrasi atau stress, salah satunya di beberapa negara yang pernah terjadi seperti Taiwan, Korea dan sekitarnya, yang mengalami penghambatan sistem kesehatan karena kasus bunuh diri tenaga medisnya. Hal ini patut diperhatikan mengingat beberapa orang memberikan beban dan deskriminasi terhadap dokter dan tenaga kesehatan lainnya.

Selain itu, ada beberapa hipotesis yang mulai diutarakan oleh beberapa ahli Kesehatan jiwa, mereka juga ikut mengungkapkan bahwa masalah depresi yang terjadi di era Covid-19 seperti sekarang ini dikarenakan tekanan, perasaan cemas serta khawatir akan suatu hal buruk terjadi padanya, sehingga pasien yang mengidapnya akan menjadi sosok yang lebih emosional, sukar rileks dan bahkan berpikir berlebihan (overthinking dan negative thinking). Beberapa hal yang bisa memicu munculnya depresi adalah tekanan ekonomi yang naik turun, sehingga terjadinya PHK atau pengangguran, isolasi dan social distancing sehingga membuat beberapa orang menjauhi dan menghinanya, hal ini juga bisa memicu kecemasan dalam kehidupan bermasyarakat, tenaga kerja yang mulai terganggu dan juga deskriminasi.

Bahkan untuk masalah gangguan kejiwaan juga tak terus melulu membahas masalah pasien terkonfirmasi Covid-19, tetapi masalah kejiwaan juga kerap kali melanda beberapa masyarakat biasa, terlebih lagi pada mahasiswa yang justru berkuliah atau belajar melalui daring (dalam jaringan). Beban tugas, hingga penolakan tugas pun sering terjadi, bahkan hal ini juga bisa memicu munculnya depresi dan stress karena tekanan.

Akhirnya penulis menyimpulkan bahwa sistem dan kebijakan kesehatan mental menjadi salah satu bagian terpenting dari setiap kebijakan untuk mempercepat dalam menanggulangi masalah Covid-19. Karena kesehatan mental sangat berkaitan erat dengan produktivitas dan pola hidup masyarakat, untuk memberantas habis virus Covid-19.

Related posts