Stigma, Diskriminasi dan Pentingnya Edukasi HIV/AIDS

Hnews.idfoto/2021

Hnews.id | HIV (Human immunodeficiency Virus) merupakan sebuah retrovirus yang dapat menyebabkan AIDS (Acquired Immuno-Deficiency Syndrome). Virus ini ditularkan melalui kontak darah, kontak seksual, dan dapat ditularkan dari ibu kepada janin yang dikandungnya. HIV bersifat carrier dalam perjalanannya menjadi AIDS selama 5-15 tahun. Faktanya virus HIV/AIDS tidak dapat bertahan lama dalam udara bebas, HIV/AIDS masih dianggap penyakit yang mudah menular melalui cairan seperti keringat, air liur dan air seni. Tetapi sebenarnya HIV tidak menular dari berbagi tempat makan, berdekatan dengan penderita, berbagi toilet yang sama.

Sebagian masyarakat berpandangan bahwa penderita HIV/AIDS, yang dikenal dengan sebutan ODHA, harus dijauhi karena khawatir tertular. Bisa dipastikan bahwa stigma semacam itu justru menjadi semacam teror, yang jauh lebih mengerikan dibanding dengan penyakit HIV dan AIDS itu sendiri. Akibatnya bagi yang kena ODHA akan cenderung menyembunyikan penyakitnya dari masyarakat dan bahkan terhadap keluarga sendiri. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, hingga Juni 2020 jumlah ODHA di Indonesa dilaporkan mencapai 398.784 kasus.

Stigma dan deskriminasi bagi penderita HIV/AIDS tidak hanya berada dikalangan masyarakat awam, di dalam sektor kesehatan juga masih banyak yang memberikan stigma dan deskriminasi bagi ODHA. Hal ini menjadi permasalahan serius, baik dalam lingkungan masyarakat maupun dalam lingkungan kesehatan sendiri. Dalam lingkungan kesehatan, harusnya menjadi tempat yang aman bagi penderita HIV/AIDS yang seharusnya dapat mengobati tanpa melihat latar belakangnya, diskriminasi dan stigma ini disebabkan masih belum teredukasinya petugas kesehatan terhadap pelayanan kepada penderita HIV/AIDS, biasanya terjadi akibat ketakutan yang berlebihan akan tertular penyakit ini, juga dipengaruhi oleh pengetahuan dan persepsi petugas kesehatan tentang HIV/AIDS, seperti tentang rasa malu (shame) dan menyalahkan (blame) yang berhubungan dengan penyakit AIDS. Faktor lainnya yaitu tingkat pendidikan dan lama bekerja petugas kesehatan.

Penelitian Chen (2004) menjelaskan 64,1% perawat bersimpati kepada pasien dengan HIV positif dan lebih dari 50% perawat yang memiliki simpati tersebut, mengaku menghindari untuk kontak atau berhubungan dengan ODHA, dan secara umum petugas kesehatan kurang mendukung terhadap ODHA dan kelompok terstigma. Penelitian lain yang dilakukan oleh Diaz di Puerto Rico pada tahun 2011 menyebutkan adanya peran agama dalam membentuk konsep tentang sehat dan sakit serta terkait dengan adanya stigma terhadap penderita HIV/AIDS. Lalu ada faktor dari dukungan institusi dalam bentuk penyediaan sarana, fasilitas, bahan dan alat-alat perlindungan diri bagi petugas kesehatan berpengaruh terhadap stigma dan diskriminasi kepada penderita HIV/AIDS oleh petugas kesehatan.

Penulis berpendapatbahwa pentingnya edukasi bahwa penyakit HIV/AIDS bukan merupakan aib ataupun hal yang harus mendapatkan stigma dan diskriminasi, baik dalam sektor pelayanan kesehatan maupun dalam masyarakat sendiri. Saran penulis pemberian edukasi menjadi salah satu jalan yang dapat mengurangi stigma tersebut, selain itu petugas kesehatan memiliki peranan penting dalam mengedukasi penderita ODHA, masyarakat ataupun sesama petugas kesehatan dalam mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS.

Related posts