Limbah Medis

foto:hukumonline/2021

Hnews.id | Belakangan ini tren meningkatnya jumlah timbulan limbah medis terjadi dan mendunia. Selama terjadinya wabah Covid-19 di Provinsi Hubei, Tiongkok, tercatat peningkatan 6 kali timbulan normal dari limbah medis. Dari 40 ton/hari meningkat menjadi 240 ton/hari. Masalah peningkatan limbah sangat cepat di negara-negara berkembang, dimana jumlah peningkatan limbah yang dihasilkan naik pesat ketika meluasnya layanan perawatan kesehatan di negara-negara tersebut.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan bahwasanya kapasitas atau muatan pengolahan limbah medis fasilitas pelayanan kesehatan seluruh Indonesia baru mencapai 70,21 ton/ hari. Apabila ditambah dengan kapasitas atau muatan dari jasa pengolahan oleh pihak ketiga jumlahnya sebesar 244,08 ton/hari. Sementara itu, menurut Nurali (2020) Kemenkes juga menyebutkan bahwa kapasitas atau muatan pengolahan limbah medis fasyankes baru mencapai 53,12 ton/hari ditambah dengan kapasitas jasa pengolahan yang dilakukan oleh pihak ketiga sebesar 187,90 ton/hari. Dengan jumlah fasilitas pelayanan kesehatan sebanyak 2.889 RS, 10.062 Puskesmas, 7.641 Klinik, dan juga fasilitas lain seperti apotek, laboratorium kesehatan, dan unit transfusi darah, diperkirakan limbah medis yang dihasilkan di Indonesia per hari sebanyak 294,66 ton, dengan kata lain maka defisit 70,432 ton/hari.

Limbah yang dihasilkan dari fasilitas pelayanan kesehatan seperti Poliklinik, Puskesmas dan Rumah Sakit yaitu jenis limbah yang termasuk dalam kategori biohazard/infeksius adalah jenis limbah yang sangat membahayakan lingkungan, dimana adanya virus, bakteri maupun zat yang membahayakan lainnya (B3). Indonesia lebih dari separuh Puskesmas telah memiliki sarana pembuangan limbah baik di puskesmas rawat jalan (66,1%) dan puskesmas rawat inap (68,2%). Kebanyakan puskesmas masih kurang layak dalam penanganan limbah sebesar (72,2%) puskesmas rawat inap dan (72,9%) rawat jalan.

Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) medis padat adalah bahan atau barang sisa hasil kegiatan yang sudah tidak dipakai kembali yang beresiko terkontaminasi oleh zat yang bersifat infeksius atau kontak dengan petugas dan/atau pasien di fasilitas pelayanan kesehatan yang menangani pasien covid-19, seperti masker bekas, perban bekas, tisu bekas, sarung tangan bekas,  plastik bekas minuman dan makanan, Alat Pelindung Diri (APD) bekas, kertas bekas makanan dan minuman, alat suntik bekas, set infus bekas, sisa makanan pasien dan lain-lain, yang berasal dari kegiatan pelayanan baik di UGD, ruang isolasi, ruang ICU, ruang perawatan maupun ruang pelayanan lainnya.

Menurut penulis, sejalan dengan perkembangan berbagai kegiatan pelayanan kesehatan di Puskesmas, maka akan berdampak juga pada kenaikan jumlah limbah yang dihasilkan baik medis maupun non medis  sekalipun dalam bentuk padat.

Related posts