Ahli Kesehatan Masyarakat dan Berpikir Sistem

foto:pendidikan/2021

Hnews.id | Pandemi Covid-19 yang menyerang Indonesia semenjak bulan Maret 2020 silam menimbulkan perubahan di bermacam aspek kehidupan, paling utama sangat mempengaruhi di aspek kesehatan masyarakat. Sehingga, penerapan program-program bidang kesehatan saat ini terfokus pada pengendalian Covid-19. Seperti yang kita ketahui, penyakit COVID-19 ialah penyakit dengan tingkatan penyebaran yang kilat serta bisa menyebabkan kematian. Ini jadi salah satu alasan penanggulangannya jadi prioritas pemerintah kita saat ini. Penanggulangan COVID-19 walaupun masuk ranah bidang kesehatan, tetapi dalam penanganannya perlu merangkul bermacam lintas sektor untuk berkoordinasi salah satunya tenaga ahli Kesehatan Masyarakat. Dalam penanggulangan penyakit diharapkan seseorang pengambil keputusan program bisa berpikir sistem, karena Covid-19 menuntut untuk melakukan perubahan, baik dalam hal cara berpikir, cara berperilaku, dan cara bekerja.

Tantangan berikutnya untuk tenaga ahli Kesehatan Masyarakat, adalah cara berpikir serta cara berperilaku yang bisa meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta tangguh terhadap ancaman penyakit. Berpikir sistem ialah salah satu kompetensi yang wajib Kesehatan Masyarakat Indonesia yang disusun oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia (AIPTKMI), ditetapkan ada 8 (delapan) kompetensi sarjana Kesehatan Masyarakat, yakni: Kemampuan ahi Kesehatan Mayarakat untuk melakukan kajian dan analisis, merencanakan dan terampil mengembangkan kebijakan kesehatan, kemampuan untuk melakukan komunikasi, kemampuan untuk memahami budaya local, kemampuan untuk melakukan pemberdayaan masyarakat, kemampuan memahami dasar-dasar ilmu kesehatan masyarakat, kemampuan untuk merencanakan dan mengelola sumber dana, kemampuan untuk memimpin dan berfikir sistem.

Dalam menyusun alternatif pemecahan permasalahan di penanggulangan COVID- 19, pola berpikir sistem sangat bermanfaat untuk menuntaskan berbagai permasalahan yang terjadi dengan menemukan akar masalahnya. Seperti misalnya, terjadi stigma pada tenaga kesehatan dan penderita COVID-19 maka harus dilakukan penelusuran mengapa terjadi stigma di suatu masyarakat. Apakah dikarenakan ketakutan masyarakat dan berita hoax di tengah masyarakat. Guna mengatasi hal ini, perlu pendekatan dari tokoh masyarakat yang dianggap dapat membantu mengedukasi serta mengarahkan masyarakat. contoh lain persoalan ketidakpatuhan masyarakat dalam menggunakan masker mungkin pada setiap daerah akan sama masalahnya tetapi tidak selaras penyebab masalahnya. Bisa jadi penyebab ketidakpatuhan ini dikarenakan memang masyarakat tersebut tidak mempunyai masker karena tidak bisa membeli masker, atau mungkin mereka mampu membeli masker namun merasa tidak nyaman memakai masker dan permasalahan lain seperti masyarakat yang tidak percaya dengan adanya Covid-19 ini. Sehingga dengan adanya perbedaan penyebab masalah akan berbeda pula treatment yang diberikan, mungkin terkesan rumit, tetapi dengan berpikir sistematis dan tepat sasaran akan mempermudah pencapaian tujuan dalam penanggulangan Covid-19.

Maka dari itu, memang diperlukan ahli Kesehatan Masyarakat dengan bekal kepemimpinan dan berpikir sistem, karena nantinya diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari penanggulangan Covid-19.

Related posts