Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Hnews.id | Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia dimulai tahun 1847 ketika mulai dipakainya mesin uap oleh Belanda diberbagai industri khususnya industri gula. Tanggal 28 Februari 1852 Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Staatsblad ( Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) No 20 yang mengatur tentang keselamatan dalam pemakaian pesawat uap. Pada Tahun 1905 dengan Staatsblad (Stbl)No 521 Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan perundangan Keselamatan Kerja yang dikenal dengan Veiligheid Regelement (VR) yang lebih dikenal dengan Stbl 406 tahun 1903 dan menjadi landasan penerapan Keselamatan Kesehatan Kerja di Indonesia. Pada awal abad ke 20 Pemerintah Hindia Belanda menerbitkan Veiligheid Regelement (Undang-Undang Keselamatan) pada tahun 1905 sebagai langkah untuk melindungi tenaga kerja. Setelah lebih dari 60 tahun kemudian Undang-Undang tesebut dicabut dan diganti dengan Undang-Undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

Definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Keselamatan dan Kesehatan Kerja difilosfikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani. Sedangkan pengertian secdara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelekaan dan Penyakit Akibat Kerja (PAK). Keselamatan Kerja adalah keselamatan yang erat kaitannya dengan alat, bahan dan proses pekerjaan sedangkan Kesehatan Kerja adalah kondisi fisik, mental dan sosial seseorang yang bebas dari penyakit dan gangguan kesehatan lainnya serta mampu menunjukan kemampuan untuk berinteraksi dengan dilingkungan dan pekerjaannya.

Tujuan dan Fungsi Keselamatan Kesehatan Kerja

  1. Tujuan Keselamatan Kesehatan Kerja adalah :
    • Melindungi Tenaga Kerja atas hak keselamata dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produktivitas nasional
    • Menjamin Keselamatan orang lain yang ada di Tempat Kerja
    • Memelihara Sumber Produksi agar dapat digunakan secara aman dan efisien
  2. Fungsi Keselamatan dan Kesehatan Kerja yaitu :
    • Identifikasi dan melakukan penilaian terhadap risiko dari bahaya Kesehatan di tempat kerja
    • Memberikan saran terhadap perencanaan dan pengorganisasian praktik kerja termasuk desain tempat kerja
    • Memberikan saran,informasi,pelatihan dan edukasi tentang Kesehatan Kerja dan APD ( Alat Pelindung DIri )
    • Melaksanakan survey terhadap Kesehatan Kerja
    • Terlibat dalam proses rehabilitasi
    • Mengelola P3K dan tindakan darurat

Arti Lambang Kesehatan Keselamatan Kerja

Lambang Keselamatan Kesehatan Kerja dan maknanya terdapat didalam KEPMENAKER RI 1135/MEN/1987. Arti Lambang Keselamatan dan Kesehatan Kerja yaitu :

  • Palang Hijau, memiliki arti bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja
  • Roda Gigi, memiliki makna bekerja dengan kesegaran jasmani dan rohani
  • Warna putih bermakna bersih dan suci
  • Warna hijau bermakna selamat, sehat dan sejahtera

Identifikasi Bahaya

Identifikasi bahaya atau risiko adalah suatu teknik komperensif untuk mengetahui potensi bahaya dari suatu alat,bahan,alat atau system. Bahaya dapat dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan sumbernya yaitu :

  • Fisik, seperti kebisingan, ergonomi, radiasi dan pengangkatan manual
  • Mekanik, seperti part yang bergerak dan part yang berotasi
  • Elektrikal, seperti voltase dan area magnetic
  • Kimia, seperti substansi yang mudah terbakar, beracun dan korosif
  • Biologis, seperti virus dan bakteri

Identifikasi diawali dengan teknik penentuan teknik identifikasi yang dinilai akan memberikan informasi yang dibutuhkan. Teknik yang digunakan antara lain :

  • Survei Keselamatan Kerja
  • Patroli Keselamatan Kerja
  • Pengaambilan Sampel Keselamatan Kerja
  • Audit Keselamatan Kerja
  • Pemeriksaan Lingkungan
  • Laporan Kecelakaan
  • Laporan K ecelakaan yang nyaris terjadi
  • Saran maupun kritik dari para karyawan

Penilaian Risiko

Penilaian Risiko adalah cara-cara yang digunakan perusahaan untuk dapat mengelola dengan baik risiko yang dihadapi oleh pekerja. Istilah yang biasanya digunakan dalam penilaian risiko yaitu:

  • Bahaya (Hazard) adalah suatu yang berpotensi menyebabkan kerugian atau kehilangan
  • Probabilitas adalah kemungkinan bahwa bahaya dapat menyebabkan kerusakan atau kerugian
  • Risiko adalah perpuduan antara probabilitas dan tingkat keparahan kerusakan atau kerugian
  • Berbahaya adalah keadaan yang berisiko
  • Tingkat risiko adalah ukuran jumlah orang yang mungkin terkena pengaruh dan tingkat keparahan kerusakan atau kerugian berupa konsekuensi.

Langkah-Langkah melakukan penilaian risiko yaitu :

  1. Mempersiapkan program penilaian risiko yaitu dengan membuat daftat area kerja yang menunjukan bahaya, kemudian membuaut daftar secara berurutan mulai dari tingkat bahaya terbesar.
  2. Identifikasi Bahaya dengan cara :
    • Inspeksi Keselamatan Kerja
    • Mengadakan patroli Keselamatan Kerja
    • Mengaudit Keselamatan Kerja
    • Membuat laporan Kecelakaan
    • Melaporkan kondisi yang hamper menimbulkan kecelakaan
  3. Menghilangkan atau mengurangi bahaya dengan tindakan sebagai berikut:
    • Membuat metode kerja yang lebih aman
    • Membuat aturan atau SOP yang harus dipatuhi oleh seluruh pegawai untuk mengurangi jumlah Kecelakaan Kerja
  4. Mengevaluasi risiko-risiko yang mungkin akan terjadi dengan mempertimbangkan nilai risiko yaitu tingkat bahaya yang akan dihadapi dan kemungkinan terjadinya kecelakaan.
  5. Mengadakan pelatihan tentang operasi mengenai metode-metode kerja yang baru dan pelaksanaan upaya pencegahan yang benar
  6. Mengembangkan strategi-strategi pencegahan dengan cara :
    • Menghilangkan peralatan material dan metode kerja yang berbahaya
    • Mensubstitusi peralatan material atau metode kerja yang lebih aman
    • Mencegah kontak dengan menggunakan sarana pelindung yang sesuai
    • Mengendndalikan atau membatasi akses dan waktu terhadap hal yang berbahaya dan menimbulkan risiko
    • Menyediakan APD 
  7. Mengimplementasikan upaya pencegahan
  8. Memonitor pekerjaan dengan cara:
    • Metode kerja yang sedang digunakan
    • Menganalisis bahwa metode kerja yang baru tidak menciptakan bahaya baru yang risikonya tinggi
    • Menandai dan mengoreksi kemungkinan kelemahan upaya pencehan
  9. Melaksanakan kajian ulang secara berkala
    • Memastikan bahwa metode yang sedang berjalan masih efektif
    • Memperbarui secara berkala tindakan-tindakan pencegahan

Related posts