Terapi SEFT untuk Mengurangi Kecemasan dan Depresi pasien Covid-19

Gb.koleksipribadi/2021

Hnews.id | Pandemi Covid-19 merupakan masa sulit yang membuat sebagian orang harus berhadapan dengan masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan dan depresi. Karena hal ini menimbulkan rasa panik dan cemas. Pola hidup yang normal seperti biasa tiba-tiba harus segera diubah, dan sebagian orang tidak tahu harus berbuat apa atau bagaimana bertindak. Hal inilah yang menimbulkan kecemasan. Dalam batas normal, cemas atau kecemasan sebenarnya merupakan sebuah tanda yang diperlukan oleh individu akan adanya suatu bahaya sehingga diharapkan akan lebih siap (Mulyana, 2015).

Dalam perkiraan pertama di seluruh dunia tentang dampak kesehatan psikis atau mental seseorang dari Covid-19, para peneliti memperkirakan bahwa pada 2020 terdapat tambahan 52 juta orang menderita gangguan depresi mayor, dan tambahan 76 juta kasus kecemasan. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet, angka tersebut menandai peningkatan 28% dan 26% dalam masing-masing masalah kesehatan psikis tersebut.

Studi menunjukkan bahwa negara-negara yang paling terpukul dibebani dengan beban kesehatan mental terbesar, dengan hubungan kuat antara tingkat kasus Covid-19 yang tinggi, pembatasan pergerakan, dan peningkatan tingkat kecemasan dan depresi. Damian Santomauro, dari University of Queensland’s School of Public Health menyoroti kebutuhan mendesak memperkuat sistem kesehatan mental untuk mengatasi beban gangguan kecemasan yang meningkat di seluruh dunia.

“Memenuhi permintaan untuk layanan kesehatan mental tambahan karena COVID-19 akan menjadi tantangan, tetapi kelambanan tidak boleh menjadi pilihan.” Studi ini menganalisis data yang dikumpulkan di Amerika Utara, Eropa, dan peneliti Asia Timur memodelkan prevalensi kecemasan dan depresi. Tanpa Covid-19, tidak ada 298 juta kasus kecemasan dalam pandemi global, tetapi jumlah sebenarnya tahun lalu adalah 374 juta. Mirip dengan kecemasan, model memperkirakan bahwa 193 juta kasus depresi diperkirakan akan terjadi. Pada saat yang sama, karena pandemi, 246 juta kasus telah diamati pada tahun 2020.

Studi ini juga menunjukkan bahwa penangguhan sekolah dan universitas membatasi kemampuan kaum muda untuk belajar, berinteraksi dengan teman sebayanya, dan mencari pekerjaan, yang berdampak besar pada kesehatan mental di antara anak muda berusia 20-24 tahun. “Pandemi COVID-19 telah memperburuk banyak ketidaksetaraan yang ada, dan determinan sosial dari gangguan kesehatan mental, dan mekanisme yang mendasari untuk meningkatkan kesehatan mental dalam konteks pandemi COVID-19 secara global,” kata Alize Ferrari, dari University of Queensland.

Kecemasan dan depresi tersebut bila tidak terkontrol akan mempengaruhi pola pikir maupun perilaku sehingga dapat menjadi gangguan psikologis. Banyak teknik pengobatan yang dikembangkan untuk mengatasi kecemasan, salah satunya adalah Mental Emotional Release Technology (SEFT). SEFT telah terbukti mampu mengontrol dan menurunkan tingkat kecemasan secara umum.

Terapi SEFT bisa dijadikan salah satu program pendampingan psikologi di rumah karantina Covid-19 sebagai upaya untuk mengurangi kecemasan dan gejala gangguan psikologis lainnya. Menurut salah satu konselor SEFT, Adisurya (33th) apabila program SEFT ini diberikan secara periodik (2 kali seminggu) insyaallah akan mendapatkan hasil yang maksimal, dengan indikator tingkat kecemasan menurun dan sampai pasien merasa percaya diri, nyaman serta siap dikembalikan pada keluarga dan lingkungannya.

Rencana perawatan SEFT dimulai dengan latihan santai dan permainan yang menyenangkan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan. Terapi yang menggunakan metode mengetuk ringan titik-titik tertentu di tubuh manusia dilakukan sendiri oleh peserta yang ada di rumah karantina dengan panduan Tim Relawan Konselor dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, semua  memakai masker dan tetap jaga jarak.

Related posts