Mental Illness : Gangguan Kejiwaan di Tengah Kebijakan Pandemi

Hnews.id | Penyakit mental yang sering disalah artikan. Mental Illness merupakan gangguan jiwa yang bisa membuat seseorang memiliki emosi yang tidak stabil. Penting untuk merubah pola pikir masyarakat mengenai penderita gangguan mental yang berkali kali disangkut pautkan dengan orang gila. Orang-orang yang menderita gangguan ini membutuhkan dukungan dan kata-kata penyemangat. Karena cacian dari masyarakat yang bisa membuat kondisi mental semakin down dan parah.

Selama masa pandemi, banyak perubahan yang dirasakan oleh sebagian masyarakat. Bahkan mengganggu kesehatan mentalnya. Hal itu karena adanya kebiasaan baru yang harus dilakukan masyarakat. Dampaknya bisa dirasakan sekarang maupun di masa yang akan datang, tidak hanya itu, dampak dari pandemi pun memengaruhi produktivitas masyarakat dan kondisi sosial ekonomi negara. Ukuran dampak pandemi COVID-19 terhadap Kesehatan mental belum dapat diukur, namun informasi mengenai dampak pandemic terhadap Kesehatan mental dapat diketahui dari temuan pasien saat wabah MERS-COV pada tahun 2015 di Korea Selatan.

Pada dasarnya, penderita mental Illness memerlukan dukungan dari orang terdekat. Dukungan ini sangatlah penting untuk proses pemulihan mereka. Tahanlah untuk tidak menghakimi atau juga menasihati mereka yang menderita penyakit psikis ini. Masalah gangguan kejiwaan telah menjadi masalah kesehatan yang belum terselesaikan di tengah-tengah masyarakat, baik di tingkat global maupun nasional. Terlebih di masa pandemi COVID-19, permasalahan kesehatan jiwa akan semakin berat untuk diselesaikan. Plt. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes dr. Maxi Rein Rondonuwu mengatakan saat ini masyarakat masih berjuang mengendalikan penyebaran virus COVID-19, tapi di sisi lain telah menyebar perasaan kecemasan, ketakutan, tekanan mental akibat dari isolasi, pembatasan jarak fisik dan hubungan sosial, serta ketidak pastian. Jika sebelum pandemi terbiasa berinteraksi langsung dengan orang lain, tetapi situasi saat ini menyebabkan seseorang tiba-tiba harus membatasi melakukan interaksi secara langsung. Situasi ini bukanlah hal yang mudah, terlebih di tengah suasana yang penuh dengan ketidakpastian memunculkan rasa cemas, khawatir, ketakutan, stres, hingga depresi. Dengan kata lain kondisi mental menjadi lebih rentan atau labil. Keadaan itu tak jarang memicu perilaku kekerasan di dalam keluarga.

Bukan hanya itu kerentanan mental pada pasien yang telah sembuh dari Covid-19 juga menjadi persoalan besar dalam kesehatan mental di tengah pendemi ini. Hal tersebut terjadi karena masih adanya stigma atau pelabelan pada pasien di masyarakat. Stigma di masyarakat ini menjadikan pasien yang sembuh dari Covid-19 memiliki kekhawatiran yang lebih tinggi dibanding saat belum terpapar Covid-19.

Dr. dr. Ronny Wirasto, Sp.KJ(K) menjelaskan bahwa saat ini Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19 menggunakan strategi-strategi khusus, yaitu dengan cara Deteksi, Pencegahan, dan Respon. Gangguan kejiwaan ada sangat banyak jenisnya. Masing-masing jenis memiliki gejala yang berbeda, tergantung pada tingkat keparahannya. Karena berhubungan dengan pikiran dan perasaan, kondisi ini bisa dibilang membutuhkan perawatan yang cukup rumit. Meski begitu, mental illness tetap bisa diobati dan dikendalikan dengan perpaduan psikoterapi dan obat-obatan dari dokter. 

Related posts