Pro dan Kontra Tes PCR Covid-19

Gb.dw.com/2021

Hnews.id | Tenaga medis mungkin sudah tahu apa itu Swab-PCR. Tapi tidak demikian dengan masyarakat awam. Swab-PCR adalah istilah dalam metode pemeriksaan medis untuk mengetahui adanya Covid-19 dalam tubuh seseorang, PCR adalah singkatan dari polymerase chain reaction. PCR merupakan metode pemeriksaan virus SARS Co-2 dengan mendeteksi DNA virus. Uji ini akan  didapatkan hasil apakah seseorang positif atau tidak SARS Co-2 . pemeriksaan RT-PCR lebih akurat. Metode ini jugalah yang direkomendasikan WHO untuk mendeteksi Covid-19. Namun akurasi ini dibarengi dengan kerumitan proses dan harga alat yang lebih tinggi. Selain itu, proses untuk mengetahui hasilnya lebih lama.

Apa yang di ambil dari tes PCR ?

Swab-PCR: Mengambil sampel dari rongga nasofaring dan atau arofarings(melalui hidung dan tenggorokan)

Bagaimana prosedur tes PCR?

Swab-PCR : Sistem lebih rumit dan memakan waktu yang lama

Pemerintah mewajibkan penggunaan alat bukti uji PCR sebagai syarat perjalanan domestik untuk terbang ke wilayah Jawa Bali. Kebijakan ini diambil pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19. Apalagi melihat peningkatan mobilitas masyarakat pasca pelonggaran. Persyaratan PCR tidak berlaku bagi pengguna transportasi darat seperti kereta api, karena volume penumpang udara meningkat dari 70% menjadi 100%, sementara untuk modal tranportasi laiinya masih dibatasi 70%”surat edaran menhub SE Nomor 14/2020 transportasi kerta api, SE Nomor 13/2020 transportasi udara.

Syarat terbaru naik transportasi udara resmi berlaku mulai 24 Oktober 2021. Syarat tersebut wajib menunjukkan hasil negatif tes polymerase chain reaction (PCR) maksimum 2×24 jam sebelum keberangkatan untuk penerbangan dari atau ke Jawa-Bali dan antar kota Jawa-Bali. Kebijakan ini di nilai menyulitkan tahk hanya penumpang saja tetapi juga untuk industri pariwisata dan penerbangan, di karenakan biaya tes PCR yang mahal, prosesnya cukup memakan waktu yang lama,dikarenakan saat pengambilannya ada rasa tidak nyaman/sakit jadi masyarakat takut untuk tes PCR.

Sebagai usaha pemerintah untuk mengatasi keluhan masyarakat tersebut menurut kebijakan surat edaran Direktus Jenderal Pelayanan Kesehatan Nomor HK 02.02/1/3843/2021 Tentang Batas Tarif Tertinggi Pemeriksaan Reverse Transription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR).

Pelayanan pemeriksaan RT-PCR oleh fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pemeriksa lain :

Batas tariff tertinggi untuk pemeriksaan RT-PCR termasuk pengambilan swab yaitu :

  • Untuk pemeriksaaan RT-PCR di pulau jawa dan bali  sebesar Rp 275.000 (Dua Ratus Tujuh Puluh Lima Ribu Rupiah).
  • Untuk pemeriksaan RT-PCR  di luar pulau jawa dan bali  sebesar RP 300.000 ( Tiga Ratus Ribu Rupiah)

Batas taruf terif tingggi  berlaku untuk masyarakat yang melakukan pemeriksaan RT-PCR atas permintaan sendiri/mandiri.

Batas taruf tertinggi berlaku untuk kegiatan penelusuran kontak(contact tracing) atau rujukan kasus COVID-19 ke rumah sakit yang menyelenggarakan mendapat bantuan pemeriksaan RT-PCR dari pemerintah.

Dinas Kesehatan Provinsi dan Dina Kesehatan Kabupaten/Kota melakukan pembibingan dan pengawasan terhadap pemberlakuan pembatasan tariff RT-PCR  berdasarkan kewenangan masing-masing dan sesuai peraturan perundang-undangan.

Pemerintah akan melakukan evaluasi secara periodic terhadap ketentuan batas tariff tinggi untuk pemeriksaan RT-PCR .

Pro dan Kontra yang di alami tersebut yaitu :

Pro

Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar Pulmonologi dan Kedokteran Pernafasan, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), sependapat bahwa tes PCR harus digunakan sebagai syarat perjalanan udara karena hasil tes PCR negatif memberikan keamanan yang lebih besar dalam mencegah penyebaran Covid -19.

Kontra

Harga tes masih dianggap mahal

Pemerintah diminta mengkaji ulang margin keuntungan dan batas atas tes PCR. Pasalnya, harga tes swab masih dinilai terlalu mahal, bahkan lebih mahal dari tiket pesawat.

Fasilitas bandara dianggap tidak jelas

Djoko Setidjowarno, Ketua Bidang Humas dan Kemasyarakatan Asosiasi Transportasi Indonesia (MTI), menilai pihak bandara tidak cepat menyiapkan fasilitas uji untuk kenyamanan penumpang. “Terus terang pelayanan bandaranya tidak jelas. Di stasiun, pelayanan tes sudah buka satu jam setelah berangkat jam 6 pagi.

Related posts