Pengendalian Risiko di dalam Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut

Sumber:Koleksipribadi/2022

Hnews.id | Setiap kegiatan maupun pekerjaan yang dilakukan oleh manusia tidak luput dari berbagai risiko, begitu juga dengan pekerjaan sebagai Dokter gigi. Maka dari itu, diperlukan manajemen risiko kesehatan pada setiap tempat kerja guna untuk meminimalisir terjadinya risiko, salah satunya dalam pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Tahap-tahap pada manajemen risiko yaitu: perencanaan identifikasi risiko, penilaian risiko, dan pengendalian risiko. Pada bidang kedokteran gigi, manajemen risiko bukan hanya melindungi dokter gigi, tetapi berguna juga untuk pasien maupun pendamping pasien dan memastikan agar area klinik atau tempat kerja aman bagi semua orang. Demi kebaikan bersama dan guna meminimalisir resiko yang ditimbulkan, sebaiknya setiap dokter gigi mengikuti standar prosedur perawatan yang berlaku. Oleh sebab itu maka perlu ada manajemen risiko yang baik guna meminimalisir bahaya atau kecelakaan yang akan dihadapi. 

Beberapa prosedur medis yang biasa dijalankan oleh dokter gigi antara lain pencabutan gigi, pembersihan karang gigi, penambalan gigi, perawatan saluran akar gigi, pembuatan gigi palsu dan masih banyak lagi. Setiap kegiatan tersebut memiliki resiko masing-masing, salah satu contohnya adalah dokter gigi rawan tertusuk jarum maupun benda-benda tajam lainnya saat melakukan tindakan kedokteran gigi yang dapat berakibat fatal dan dapat terjadinya pertukaran penyakit. Terdapat berbagai macam penyakit menular yang dapat terjadi selama perawatan gigi, sehingga tenaga kesehatan gigi berisiko tinggi terinfeksi penyakit saat melakukan perawatan kepada pasien. Prosedur penatalaksanaan infeksi silang yang umum digunakan adalah standard precaution yang dikeluarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Maka dari itu dokter gigi wajib melakukan tindakan kedokteran gigi sesuai SOP dan memakai alat pelindung diri.

Berikut ini termasuk dalam cara perlindungan diri dalam kedokteran gigi antara lain:

  • Mencuci tangan

Mencuci tangan dengan menggunakan sabun diperlukan setiap sebelum dan sesudah melakukan perawatan pada pasien. Setiap kali selesai perawatan, sarung tangan harus dibuang dan tangan harus dicuci kembali sebelum mengenakan sarung tangan yang baru.

  • Penggunaan sarung tangan

Tenaga kesehatan gigi dan mulut wajib menggunakan sarung tangan saat sedang melakukan perawatan yang membutuhkan adanya kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya. Sarung tangan yang dipakai harus diganti setiap pasien guna menghindari terjadinya transfer mikrooganisme ke pasien lain atau permukaan lingkungan, Jika sarung tangan  sobek atau bocor harus langsung mengganti sarung tangan dan melakukan cuci tangan sebelum memakai kembali sarung tangan. Disarankan untuk tidak mencuci, mendisinfeksi atau mensterilkan ulang sarung tangan yang sudah digunakan.

  • Penggunaan  masker

Tenaga medis pelayanan kesehatan gigi dan mulut wajib menggunakan masker saat melakukan tindakan kedojteran gigi guna mencegah penularan infeksi penyakit menular akibat kontaminasi aerosol serta percikan saliva dan darah dari pasien. Ukuran dan bentuk masker harus sesuai dan melekat baik pada wajah tanpa ada celah, sehingga dapat menutupi mulut dan hidung dengan baik. Efektifitas dalam pemakaian masker saat prosedur perawatan adalah 30-60 menit. Setiap bergantu pasien maka masker juga harus ikut diganti, apabila terdapat masker yang lembab atau basah ataupun terkena ternoda selama tindakan, maka masker harus diganti, karena juka basah, masker bisa kehilangan kualitas perlindungannya.

  • Penggunaan  kaca mata pelindung

Tenaga kesehatan gigi dan mulut wajib menggunakan kacamata pelindung saat melakukan tindakan kedokteran gigi guna mencegaha penularan infeksi penyakit menular akibat kontaminasi aerosol dan percikan saliva dan darah. Kacamata harus didekontaminasi dengan air dan sabun, kemudian disterilkan setiap kali ada pegantian pasien.

  • Pemakaian baju pelindung

Penggunaan baju pelindung berupa jas praktek yang bersih dan sudah dicuci wajib digunakan pada tenaga pelayaan kesehatan gigi dan mulut. Baju pelindung tersebut berguna untuk mencegah penularan infeksi penyakit menular pada pakaian, selain itu dapat melindungi kulit dari kontaminasi darah serta cairan tubuh.

  • Imunisasi

Tenaga medis pelayanan kesehatan gigi dan mulut memiliki risiko tinggi terhadap penularan berbagai macam penyakit, contohnya: hepatitis B, influenza, campak, gondong, rubella dan cacar air. Di zaman sekarang ini sudah banyak ditemukan vaksin untuk mencegahan infeksi dari penyakit-penyakit tersebut. Tenaga pelayanan kesehatan gigi dan mulut harus memperoleh vaksin tersebut sebagai bentuk proteksi diri terhadap infeksi yang umum terjadi, infeksi yang umum terjadi antara lain: seperti tetanus, difteri, poliomyelitis, tifoid, meningococcal, hepatitis A, hepatitis B, rubella, tuberkulosis, campak, batuk rejan, gondong. Dokter gigi di Indonesia direkomendasikan untuk melakukan vaksinasi untuk penyakit-penyakit tersebut dan mencatat/mendokumentasikan imunisasi yang telah dilakukan.

  • Sterilisasi Instrumen

Melakukan sterilisasi maupun alat tidak habis pakai merupakan suatu kewajiban dalam tindakan kedokteran gigi, sterilisasi merupakan prosedur yang dapat menghancurkan semua mikroorganisme termasuk spora melalui cara fisik atau kimia. Sterilisasi merupakan satu langkah penting dalam pembersihan alat-alat kedokteran gigi yang telah terkontaminasi atau berpotensi terkontaminasi saliva, darah, ataupun cairan biologis lainnya. Sterilisasi ini memiliki tujuan untuk memutus rantai infeksi silang dari satu pasien ke pasien yang lain.

  • Penggunaan alat sekali pakai

Alat sekali pakai merupkan alat yang di rancang hanya untuk satu pasien dan dibuang setelah digunakan, alat ini tidak boleh diolah atau digunakan kembali dan digunakan kepada pasien yang lain.

  • Manajemen sampah medis

Yang dimaksud dengan sampah medis ialah semua dari bahan-bahan menular atau kemungkinan besar menular atau zat-zat yang berasal dari tindakan atau lingkungan kedokteran gigi. Sampah tersebut harus dikelola sesuai peraturan lokal yang berlaku. Salah satu cara dalam mengelola sampah medis adalah dengan memberikan label pada kontainer sampah, kuning untuk sampah ifeksius dan hitam untuk sampah non infeksius, selain itu juga menempatkan limbah tajam seperti jarum, blade scapel, orthodontic bands, pecahan instrumen metal dan bur pada kontainer yang tepat yaitu tahan tusuk dan tahan bocor, dengan menggunakan kode warna kuning.

  • Melakukan evaluasi pada pasien

Tenaga kesehatan gigi dan mulut perlu menanyakan Riwayat kesehatan yang lengkap dari tiap-tiap pasien dan data tersebut diperbarui setiap kunjungan berikutnya. Hal ini bertujuan untuk mengetahui jika adanya infeksi silang yang kemungkinan terjadi pada praktek dokter gigi. Penyakit infeksi yang berbahaya juga harus diperhatikan.

Related posts