Strategi Penerapan Manajemen Risiko Klinis Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit

Sumber:mitra-prima.co.id/2022

Hnews.id | Keselamatan pasien merupakan salah satu yang harus diperhatikan  dengan serius dalam pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien, karena risiko yang berhubungan dengan asuhan pasien tersebut tidak akan pernah bisa dihilangkan sepenuhnya. Rumah Sakit memiliki kewajiban untuk dapat melakukan identifikasi dan mengendalikan semua risiko strategis serta operasional yang penting. Hal tersebut termasuk seluruh area pada manajerial maupun fungsional termasuk area di pelayanan, tempatnya memberikan pelayanan, area klinis dan area non klinis. Rumah sakit harus mampu memberikan  jaminan  akan berjalannya sistem untuk dapat mengendalikan dan mengurangi risiko.

Manajemen risiko memiliki hubungan yang sangat erat dengan dilaksanakannya keselamatan pasien dan keselamatan kerja di rumah sakit yang memiliki dampak  kepada pencapaian mutu rumah sakit yang baik. Selain itu, manajemen risiko klinis secara khusus berkaitan dengan peningkatan kualitas dan keamanan asuhan pasien Rumah Sakit dengan melakukan identifikasi keadaan/suasana dan peluang yang dapat menempatkan pasien pada risiko yang berbahaya dan dapat melakukan tindakan dalam pencegahan dan pengendalian risiko tersebut.

Mempertahankan kualitas klinis yang tinggi maka tentu akan semakin memberikan pengaruh pada kinerja keuangan dan risiko penurunan citra rumah sakit dapat dikurangi karena adanya penggantian biaya yaitu peralihan dari model fee for service menjadi model Ina CBG.

Keamanan dan keselamatan pasien masih menjadi tujuan khusus dan perhatian utama dalam pelayanan kesehatan karena risk yang berhubungan  dengan pemberian pelayanan kesehatan tersebut tidak dapat dihilangkan sepenuhnya dan dampak yang ditimbulkan sangat besar. Pemberian layanan kesehatan kepada pasien yang tidak aman memberikan potensi risiko yang akan mengancam nyawa merupakan penyebab yang utama atas terjadinya kematian dan meningkatnya angka kematian (mortalitas) pada pasien yang dilakukan perawatan di rumah sakit yang terjadi di berbagai Negara.

Hal ini terlihat  pada masih besarnya angka prevalensi risiko pada pelayanan kesehatan seperti Kejadian Tidak Diharapkan (KTD), Kejadian Nyaris Cedera (KNC), dan insiden-insiden klinis lainnya yang menjadi perhatian besar pada suatu organisasi yang menyediakan  layanan kesehatan kepada pasien (Farokhzadian et al., 2015; Adibi et al., 2012). Salah satu penelitian mengungkapkan bahwa sekitar 2.9%-16.6% pasien telah mengalami kejadian yang tidak diharapkan (KTD) dan 5%-13% diantaranya mengakibatkan pada kematian, dimana 50% dari kejadian tersebut yang sebenarnya dapat dicegah (Adibi et al., 2012). Selain berdampak pada pasen, masalah tersebut juga mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap faktor sosioekonomi (Farokhzadian et al., 2015).

World Health Organization (WHO) sudah menekankan bagaimana pentingnya dalam mengimplementasikan Manajemen Risiko Klinis (MRK), namun tampaknya masih saja  banyak indikator yang dapat menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien masih belum memberikan keamanan seperti apa yang diharapkan dan hak-hak pasien masih belum dapat sepenuhnya dipenuhi. Oleh karena itu, manajemen risiko memainkan peran yang sangat penting dalam mencegah dan menangani kesalahan medis terutama yang menyebabkan cedera atau kematian pada pasien.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dalam menghasilkan pemahaman yang banyak dan lebih dalam mengenai manajemen kesalahan medis yang dapat meningkatkan pelayanan kepada pasien yang memiliki hubungan dengan adanya laporan pada insiden (Zaboli et al., 2011), dan bahwa pengimplementasian manajemen risiko sudah dapat dibuktikan bahwa angka kesalahan yang terjadi unit gawat darurat (UGD) mampu diturunkan. (Zimmer et al., 2010). Pendekatan yang berdasarkan pada manajemen risiko memberikan prospektif yang bisa secara efektif meningkatkan keselamatan terutama keselamtan pasien di rumah sakit (Pretagostini et al., 2010). Neale Graham dalam penelitiannya menunjukkan bahwa angka insiden yang terjadi di dalam kamar operasi dapat mencapai 20% dan bahwa dalam penerapannya manajemen risiko angka kejadian tersebut dapat dikurangi. Demikian pula  dengan penelitian yang dilakukan oleh Handel yang mengatakan bahwa dengan diterapkannya program manajemen risiko dapat mengurangi angka kesalahan medis secara efektif (Zaboli et al., 2011).

Maka sangat penting rumah sakit untuk dapat menilai bagaimana status mapan atau tidaknya suatu rumah sakit dalam mengimplementasikan manajemen risiko yang mereka miliki sebagai dasar dan merupakan penunjuk arah dalam pengembangan program manajemen risiko klinis. Penilaian terhadap manajemen risiko di rumah sakit merupakan infrastruktur dari suatu perencanaan penerapan manajemen klinis yang merupakan salah satu isu mendasar di dunia kedokteran (Zaboli etal., 2011). Hasil penelitian tersebut yang dilakukan di rumah sakit Kota Tehran pada tahun 2011 menunjukkan bahwa minimnya kebijakan dan prosedr terkait manajemen risiko di bangsal.

Dalam sebuah penelitian terlihat jelas bahwa status akreditasi memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pelayanan rumah sakit secara umum dan termasuk juga terhadap implementasi Manajemen Risiko Klinis. Akreditasi memberikan panduan bagi rumah sakit tentang persyaratan dan elemen-elemen yang harus dipenuhi dalam pencapaian standar mutu yang dipersyaratkan, termasuk keharusan suatu rumah sakit untuk memiliki Komite Mutu atau tim lain yang bertanggungjawab terhadap peningkatan mutu (Kemenkes, 2011). Penelitian lain juga mennyatakan bahwa karyawan yang bekerja di rumah sakit yang telah terakreditasi mempunyai persepsi yang lebih positif tentang keselamatan pasien, dan menjadikan akreditasi sebagai salah satu prediktor major untuk budaya keselamatan pasien (El-Jardali etal., 2011).

Pimpinan rumah sakit tentunya harus melakukan upaya dalam melaksanakan  penguatan untuk komitmen bagi stafnya dan dapat menunjukkan komitmennya dengan jelas serta terbuka kepada seluruh staf sehingga dapat memberikan motivasi kepada mereka untuk juga ikut serta mendukung program Manajemen Risiko Klinis. Untuk mengoptimalkan serta mengefektifkan pelaksanaan program Manajemen Risiko Klinis, Pimpinan seharusnya memasukkan Manajemen Risiko Klinis sebagai salah satu kebijakan strategis rumah sakit dalam upaya peningkatan keselamatan pasien, mengadakan dan mengakomodir kegiatan-kegiatan pelatihan manajemen risiko kepada seluruh pegawai dan menentukan siapa penanggungjawab atau kordinator untuk pelaksanaan program ini agar berjalan dengan baik.

Implementasi program Manjemen Risiko Klinis di rumah sakit mendukung dan mendorong agar manajemen risiko klinis dapat dilaksanakan, yakni dengan berkomunikasi dan memberikan dukungan implementasi manajemen risiko klinis; memberikan kepercayaan dan memberdyakan seluruh staff untuk dapat mengidentifikasi, menganalisa, dan melaporkan serta mengelola risiko klinis; memberikan penghargaan, memberikan pengakuan, dan memberdayakan praktik manajemen risiko klinis; mengidentifikasi dan mengelola masalah secara; mendorong melakukan pembelajaran organisasi; mengembangkan strategi penanganan risiko klinis yang tepat untuk mengurangi kemungkinan atau terulangnya masalah dan atau konsekuensi; dan melakukan pemantauan berkelanjutan terhadap strategi yang diterapkan, dalam memastikan mereka efektif mengurangi risiko klinis.

Dengan diterapkannya program manajemen risiko Klinis di Rumah Sakit dengan baik dan konsisten dari semua lini, maka akan memberikan harapan dan jaminan kepada pasien akan keamanan dan keselamatan selama pasien mendapatkan pelayanan kesehatan termasuk di Rumah Sakit.

Related posts