Manajemen Risiko dalam Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit

Sumber:mediadiklatindonesia.com/2022

Hnews.id | Manajemen risiko adalah proses mengukur atau menilai risiko dan merumuskan strategi manajemennya dan mengoordinasikan kegiatan untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi terkait risiko. Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan dan merupakan bagian integral dari sumber daya kesehatan yang menunjang pekerjaan kesehatan. Rumah sakit merupakan institusi padat karya, teknologi, sumber daya manusia, dan berbagai jenis manusia yang saling berinteraksi, sehingga sering muncul risiko yang tidak hanya berdampak pada penerima, tetapi juga penyedia layanan. Ketika berhadapan dengan sistem kesehatan, bukan berarti tidak ada risiko, melainkan bagaimana manajemen rumah sakit dapat mengatasi risiko yang terjadi di rumah sakit dengan menetapkan manajemen risiko rumah sakit untuk menjamin keselamatan klien dan klien rumah sakit.

Keselamatan pasien saat ini merupakan hal yang prioritas untuk dilaksanakan terkait dengan mutu dan perumahsakitan, keselamatan pasien merupakan langkah kritis untuk memperbaiki kualitas . Laporan dari Institute Of Medicine (IOM) tahun 2000 menerangkan tentang kejadian yang tidak diharapkan (KTD) di rumah sakit kota Utah dan Colorado sebesar 2,9% dan 6,6% KTD berupa meninggal dunia. Di kota New York KTD (adverse event) adalah sebesar 3,7% dan 13,6%  adalah kejadian yang tidak diharapkan (KTD) berupa meninggal dunia. Angka kematian akibat kejadian yang tidak diharapkan (KTD) pada pasien rawat inap di Amerika adalah 33,6 juta di tahun 1997, di kota Utah dan Colorado berkisar 44.000, sementara di New York 98.000 per tahun (IOM, 2000). Laporan tersebut mencerminkan bahwa keselamatan pasien dalam pelayanan kesehatan yang kurang diterapkan, sehingga banyak kejadian yang tidak diharapkan (KTD) yang pada akhirnya rumah sakit menciptakan pelayanan kesehatan yang kurang bermutu, budaya keselamatan merupakan faktor dominan dalam upaya keberhasilan keselamatan dan kunci terwujudnya pelayanan kesehatan bermutu dan aman . Dalam hal ini manajemen rumah sakit sangat diperlukan dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan oleh rumah sakit.

Konsep manajemen risiko dalam pelayanan sudah diperkenalkan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja di era tahun 1980 an, pada hakekatnya manajemen risiko bersifat pencegahan terhadap terjadinya kerugiaan maupun “accident”. Secara umum dapat dikatakan bahwa kejadian yang tidak diharapkan (KTD) dalam pelayanan dapat merugikan baik dari sisi pasien, perawat dan rumah sakit, berbagai masalah terkait risiko fisik bahaya psikososial, kelalaian, dan tindakan sentinel berdampak pada keselamatan pasien dalam pelayanan dan  kejadian yang tidak diharapkan (KTD) adalah kondisi akibat pelayanan yang menimbulkan rasa tidak sembuh, tidak nyaman, , kecacatan bahkan sampai kematian. Kejadian yang tidak diharapkan (KTD) pada dasarnya adalah risiko yang melekat dari tindakan pelayanan kesehatan, perawat sebagai pengelola pelayanan dan asuhan keperawatan memiliki tanggung jawab untuk membuat sistem yang dapat meminimalkan risiko tersebut. Langkah pengelolaan risiko mencakup penetapan konteks, identifikasi risiko, analisis risiko, evaluasi risiko dan pengelolaan risiko harus di kuasai oleh seorang perawat, dengan adanya pimpinan, arahan serta pengelolaan manajemen risiko dari rumah sakit seluruh karyawan khususnya perawat yang banyak mengelola pasien dalam pemberian asuhan keperawatan di ruangan akan memahami fungsi masing – masing unit dan mampu mengidentifikasi serta melakukan implementasi untuk meminimalkan risiko dalam memberikan asuhan dan pelayanan keperawatan, mutu pelayanan sebagai hasil dari sebuah sistem dalam organisasi pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh komponen struktur dan proses, keselamatan pasien merupakan hasil interaksi antara komponen stuktur dan proses.

Hasil dari penelitian Dwiyanto (2007) dengan judul “penerapan hospital by laws dalam meningkatkan patient safety di rumah sakit” menerangkan bahwa tujuan utama dari keselamatan pasien dalam pelayanan adalah mencegah supaya tidak terjadinya cidera yang diakibatkan oleh suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak melaksanakan tindakan yang seharusnya diambil. Tujuan tersebut dapat ditempuh dengan upaya peningkatan mutu pelayanan di rumah sakit yang dilakukan secara gotong-royong oleh tenaga medis, staff kesehatan fungsional dengan melakukan pelayanan medis yang bermutu. Pelaksanaan audit medis di rumah sakit merupakan salah satu upaya yang efektif dan efisien untuk melakukan monitoring peningkatan kualitas pelayanan.

Manajemen rumah sakit tentunya harus melakukan upaya melaksanakan komitmen, audit dan memonitoring kepada seluruh karyawan sehingga hasil akhir dari itu akan memberikan motivasi untuk seluruh karyawan sehingga mereka mau terlibat untuk mendukung program manajemen resiko di rumah sakit. Manajemn resiko sebagai salah satu kebijakan rumah sakit dalam upaya peningkatan keselamatan pasien dalam pelayanan kesehatan yang melibatkan karyawan untuk mengikutsertakann dalam pelatihan-pelatihan manajemen risiko dan rumah sakit harus menentukan siapa yang akan bertanggung jawab untuk pelaksanaan program di lapangan agar berjalan dengan baik . Implementasi manajemen risiko rumah sakit yaitu dengan memberikan dukungan dan dorongan agar dapat dilaksanakan dengan baik dan seharusnya dapat memberikan jaminan kepada pasien untuk keselamatan  dalam mendapatkan pelayanan baik di rumah sakit.

Kesimpulan

Manajemen risiko pelayanan kesehatan diperlukan untuk meminimalisir kejadian yang tak diharapkan di rumah sakit (KTD) yang dapat memberatkan jika tidak segera ditangani. Untuk memberikan layanan berkualitas lebih tinggi, risiko ini perlu dianalisis dan diatasi. Dalam pencegahan risiko kejadian tak diharapkan (KTD) di pelayanan kesehatan, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan pada akar penyebab itu sendiri, antara lain human system (petugas kesehatan dan pasien) dan aspek organisasi pelayanan kesehatan yang memang membutuhkan. penanganan khusus, namun risiko kemungkinan kejadian tak diharapkan (KTD) akan lebih berwawasan ke depan.

Peningkatan mutu dan keselamatan pasien saling terkait, memberikan pelayanan pasien sesuai kebutuhan, dokter, perawat, ahli bedah yang kompeten, sumber daya manusia yang kompeten, alat yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien, dan perangkat yang mendukung keselamatan pasien dapat meningkatkan kualitas pelayanan. Pelayanan yang berkualitas didefinisikan sebagai sejauh mana pelayanan kesehatan yang diberikan memenuhi standar, yaitu standar profesional medis saat ini.

Juga perlu adanya komunikasi, kolaborasi, monitoring dan integrasi untuk mencegah risiko terulang kembali sebagai bahan untuk menilai apakah kriteria berjalan dengan baik. Namun, dalam banyak hal, peran manusia perlu mendapat perhatian lebih, karena berbagai bentuk pelayan faktor manusia memiliki peran penting.

Related posts