Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko Pelayanan Ruang Isolasi Khusus Pasien Covid-19 di RSUD Kota Depok

Sumber:pip.semarangkota.go.id/2022

Hnews.id |

ABSTRAK

Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh sindrom pernafasan akut parah coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Meski tenaga kesehatan berperan penting dalam penanganan kasus Covid-19, mereka tetap menghadapi risiko tinggi terpapar Covid-19. Artikel ini merupakan idetifikasi bahaya risiko penularan virus Covid-19 terhadap petugas kesehatan dan cara pengendalian risiko tersebut. Penelitian dilakukan pada ruangan isolasi khusus yang merawat pasien Covid-19.  Hasil utama tentang faktor risiko tenaga kesehatan di rumah sakit selama Covid-19 seperti ketersediaan alat pelindung diri (APD), paparan pasien yang terinfeksi, pelatihan PPI, kondisi medis yang sudah ada sebelumnya dan faktor psikologis. Tenaga kesehatan memiliki tingkat pengetahuan yang cukup baik tentang Covid-19, namun faktor-faktor seperti kategori pekerjaan, pengalaman kerja, dll dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya, sehingga faktor kecemasan, kelelahan dan stres bervariasi. Untuk itu diperlukan upaya dan strategi yang cukup canggih terutama di tempat kerja untuk mengatasi faktor risiko bagi tenaga kesehatan.

Kata Kunci: Covid-19, healthcare workers, risk factors, ruang isolasi khusus

PENDAHULUAN

Covid-19 merupakan virus baru yang ditemukan pada tahun 2019 dan belum pernah teridentifikasi sebelumnya untuk menyerang manusia (Zulva, 2019). Covid-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh sindrom pernapasan akut coronavirus 2 (severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 atau SARS-CoV02) (Setiawan, 2020). WHO menetapkan virus Corona sebagai pandemi pada 11 maret 2020 karena penularan virus ini sangat cepat (Moana, 2020). Pada bulan Desember 2019, di Kota Wuhan Tiongkok terjadi kejadian luar biasa (KLB) kasus radang paru (pneumonia) yang disebabkan oleh virus dari keluarga besar virus corona, tetapi virus ini belum dikenal sebelumnya, sehingga disebut sebagai Corona jenis baru atau Novel Coronavirus. Pada 11 Februari 2020, WHO secara resmi mengumumkan penamaan virus baru penyebab pneumonia misterius itu dengan nama Severe Respiratory Syndrome Corona Virus-2 (SAR-COV-2) dengan nama penyakit yang ditimbulkannya adalah Coronavirus Disaese 2019 atau Covid-19 (Sutaryo, 2020).

Perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit membutuhkan ruangan khusus sebagai tempat isolasi untuk memisahkan pasien yang terinfeksi virus Covid-19 dengan pasien yang non Covid-19. Dalam sebuah ruang isolasi pengaturan komposisi ruang menjadi hal yang sangat penting untuk mencegah adanya perpindahan sumber infeksi ke area lainnya. Risiko infeksi ini banyak ditransmisikan melalui udara tak terkecuali virus Covid-19. Pasien yang mengidap penyakit ini dapat menularkan virus melalui droplet yang bisa melayang di udara dan terhisap oleh sistem pernafasan manusia dan sentuhan partikel virus yang tidak terlihat karena berukuran  <5 μm (Sundari et al., 2017). Ruang isolasi dimaksudkan sebagai ruang pemisah pasien Covid-19 dalam mencegah meluasnya infeksi yang kemungkinan terjadi terhadap petugas medis, pasien-pasien lain, dan anggota keluarganya sendiri baik di lingkungan rumah sakit ataupun tempat tinggal pasien tersebut.

Tenaga Kesehatan merupakan garda terdepan dalam penangan kasus covid-19 sehingga risiko terpapar semakin besar. Untuk menghindari dan meminimalisasi risiko bahaya penularan penyakit Covid-19, selain menggunakan alat pelindung diri (APD) SOP tata laksanan perawatan pasien Covid-19, diperlukan juga kegiatan identifikasi dan pengendalian   risiko pelayanan  pasien Covid-19.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan pada penulisan artikel ini adalah penelitian kualitatif dengan mengamati dan mengidentifikasi kegiatan-kegiatan pelayanan di ruanagan isolasi khusus perawatan pasien Covid-19. Penulis mendata proses kegiatan pelayanan mulai alur kedatangan pasien covid-19 sampai dilakukannya perawatan pasien tersebut dan mengidentifikasi risiko bahaya, probability dan upaya pengendaliannya di  RSUD Kota Depok.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Organisasi Rumah Sakit harus menetapkan dan meningkatkan prioritas kesiapsiagaan darurat serta keselamatan tenaga kesehatan (Ferina et al, 2021). Rumah sakit wajib menyediakan lingkungan kerja yang kondusif dan aman bagi mereka. Keselamatan tenaga kesehatan akan mempengaruhi pelayanan kesehatan secara keseluruhan yang akan menentukan tingkat keselamatan pasien. Jika semakin banyak tenaga kesehatan yang terpapar atau meninggal akibat Covid-19 maka beban kerja tenaga kesehatan akan meningkat sehingga kapasitas pelayanan kesehatan dapat menurun dan angka kematian dan kesakitan akan semakin tinggi. Pelindung Diri (APD) di rumah sakit sesuai kebutuhan zonasi area merah, kuning, hijau dan sesuai level paket APD di masa pandemi COVID-19 ini juga menjadi perhatian utama. APD digunakan untuk melindungi dari penularan kontaminan darah, cairan tubuh, atau sekresi pernafasan yang mengandung virus atau bakteri. Penggunaan APD merupakan salah satu aspek dari langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi terutama di masa pandemi COVID-19. Dan terpenuhinya kebutuhan APD khususnya di ruang isolasi khusus perawatan pasien COVID-19 dapat menjamin keamanan petugas dan menurunkan angka penularan pada petugas kesehatan di rumah sakit.

Dalam menjalankan pelayanan perawatan, penularan virus Covid-19 merupakan risiko terhadap petugas kesehatan, khususnya di ruangan isolasi khusus pasien Covid-19. Untuk menghindari dan meminimalisasi risiko penularan diperlukan identifikasi bahaya dan pengendalian risiko. Hal ini di butuhkan untuk memanajemen risiko keselamatan kerja petugas farmasi rumah sakit. RSUD Kota Depok sebagai salah satu rumah sakit daerah merupakan rujukan perawatan pasien Covid-19 di wilayah Depok dan sekitarnya.

Pada pelayanan pasien Covid-19 di isolasi khusus RSUD Kota Depok ditunjuk petugas Kesehatan khusus yang melayani di ruangan isolasi khusus. Petugas tersebut di beri pelatihan dalam penanganan pasien Covid-19. Selain pelatihan, identifikasi bahaya dan pengendalian juga penting untuk menghidari dan meminimalisasi risiko penularan.

Dari hasil penelusuran dampak bahaya dan pengendalian risiko di ruangan isolasi khusus RSUD Kota Depok didapatkan hasil yang dapat dikelompokkan sebagai faktor risiko antara lain APD, perilaku PPI, pengetahuan, praktik dan sikap serta faktor fisiologis. Kepatuhan APD lengkap pribadi lebih tinggi (82%) di fasilitas Covid 19 dibandingkan dengan fasilitas non Covid 19 (68%) (Jameela & Destania, 2020).

Sebanyak 89% petugas kesehatan memiliki pengetahuan yang cukup, 85% takut terinfeksi virus sendiri, dan 89,7% mengikuti praktik yang benar (Guo et al., 2020).  Hampir semua dokter memiliki skor pengetahuan sedang hingga tinggi tetapi hanya 12% dokter yang sepenuhnya puas dengan penyediaan APD dan hampir 94% merasa tidak terlindungi (Faridah, 2020).

KESIMPULAN

Untuk mengurangi faktor risiko tenaga kesehatan terhadap transmisi infeksi Covid 19, dibutuhkan upaya dan strategi yang cukup besar terutama dari tempat kerja agar faktor risiko ini dapat diatasi. Identifikasi bahaya dan pengendalian risiko penangan pasien Covid-19 sangat dibutuhkan untuk mencari cara pengendalian dan usulan perbaikan. Kesadaran, penyediaan dan penggunaan alat pelindung diri, tata letak departemen dan faktor lingkungan serta manajemen lainnya harus dilengkapi secara ketat. Upaya pemerintah dan dukungan masyarakat juga diperlukan. Yang terpenting adalah dibutuhkan usaha dari kita semua untuk memperbaiki masalah ini.

Related posts