Risiko Penularan Covid 19 Pada Petugas Perawat di Rumah Sakit dan Kebijakan yang Berlaku di Indonesia

Sumber:alomedika.com/2022

Hnews.id |

LATAR BELAKANG

Corona Virus Disease 2019 (COVID- 19) masih menjadi merupakan wabah yang terjadi di seluruh dunia. Wabah COVID-19 disebabkan oleh virus yang bernama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang memiliki asal ekologis dari populasi kelelawar. Virus ini menyebabkan penyakit pernapasan pada manusia, dari flu biasa hingga penyakit yang lebih serius seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrom (MERS), yang mana keduanya terdeteksi untuk pertama kali pada tahun 2003 dan 2012.

World Health Organization (2020) melaporkan bahwa kasus COVID-19 yang hingga Selasa (19/7/2022), jumlah kasus infeksi virus corona di Dunia telah mencapai 568.726.679 orang, serta 6.389.452 orang meninggal dunia, 22.245.882 orang positif aktif (masih dirawat), dan 540.091.345 pasien dinyatakan sembuh.

Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit atau Fasilitas Kesehatan lainnya sangat beresiko terpapar COVID-19 (Li, Peng, Wang, Ping, Zhang, & Fu, 2020). Selama pandemi Covid-19, 274 perawat telah meninggal dan lebih dari 15.000 perawat telah tertular virus Covid-19, kata Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Perawat dan petugas kesehatan lainnya berada di garis depan perawatan kesehatan yang sangat berpeluang untuk terinfeksi COVID-19 (ICN, 2020).

TUJUAN

Tujuan penulisan  ini adalah untuk mengetahui dan memberi Informasi tentang resiko penularan Covid 19 pada perawat yang menangani Covid 19 di ruang Isolasi covid serta kebijakan pemerintah dalam penanganan.

METODE

Penulisan ini menggunakan metode literature review dengan pendekatan jurnal atau artikel, buku, dan e-book yang relevan dan akurat serta berfokus pada aplikasi perawat dalam melakukan pelayanan pasien covid 19. Adapun jurnal atau artikel dan e-book yang didapatkan dengan menggunakan Google Scholar, Scribe, dan Jurnal keperawatan Indonesia.

PEMBAHASAN

Setidaknya dua virus corona diketahui menyebabkan penyakit yang bisa menimbulkan gejala parah, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Tanda dan gejala umum infeksi COVID-19 termasuk gejala gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk, dan sesak napas. Masa inkubasi rata-rata adalah 5-6 hari, dan masa inkubasi terlama adalah 14 hari. Pada kasus COVID-19  yang berat dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian. Masa inkubasi COVID-19 rata-rata 5-6 hari, dengan range antara 1 dan 14 hari namun dapat mencapai 14 hari. Risiko  penularan tertinggi diperoleh di hari-hari pertama penyakit disebabkan oleh konsentrasi virus pada sekret yang tinggi. Orang  yang  terinfeksi dapat langsung dapat menularkan sampai dengan 48 jam sebelum onset gejala (presimptomatik) dan sampai dengan 14 hari setelah onset gejala.

Berdasarkan studi epidemiologi dan virologi saat ini, COVID-19 terbukti menyebar terutama melalui droplet dari seseorang dengan gejala (symptoms) ke orang lain di sekitarnya. Tetesan adalah partikel berisi air yang berdiameter lebih dari 5-10 m. Penularan droplet terjadi ketika seseorang berada dalam jarak dekat (dalam jarak 1 meter) dari orang yang memiliki gejala gangguan pernapasan (seperti batuk atau bersin), sehingga ada risiko kontak dengan selaput lendir (mulut dan hidung) atau konjungtiva (mata).

Dalam konteks COVID-19, penularan melalui udara dapat terjadi dalam keadaan khusus seperti intubasi endotrakeal, bronkoskopi, pengisapan terbuka, pemberian obat nebulisasi, ventilasi buatan sebelum intubasi, membalikkan pasien ke posisi tengkurap, melepaskan Ventilator, tekanan positif non-invasif ventilasi, trakeotomi, resusitasi jantung paru. Penularan melalui udara masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Dalam hal ini perawat sebagai tenaga kesehatan yang langsung kontak erat dengan pasien covid 19 sangat beresiko tertular jika pemakaian APD dan dalam pelaksanaan pelayanan tidak sesuai dengan SOP yang berlaku, APD yang dipakai khususnya pada ruangan Isolasi Covid 19 merupakan APD level 3 tidak terkecuali. Selain dari tidak sesuai pemakaian APD ada beberapa hal yang menjadi dasar resiko tinggi nya paparan.

Kelompok Sub Bidang Pemantauan dan Evaluasi Data – Gugus Tugas Covid-19 – Bidang Perlindungan Pelayanan Kesehatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kerentanan tenaga kesehatan terhadap Covid-19 bahkan dapat menyebabkan kematian, antara lain: bekerja lama/kelebihan beban, jumlah pasien cenderung terus meningkat (work overload), ada Riwayat komorbiditas, stres, dan obesitas. Selain itu, faktor lain yang dapat memicu paparan Covid-19 pada tenaga kesehatan antara lain: ancaman mutasi virus Covid-19, gangguan tidur, ketidakseimbangan kehidupan kerja, tekanan mental antara persyaratan keamanan kerja dan keamanan rumah, Akurasi terlantar, kelelahan, dan misinformasi. di rumah tangga, kurangnya informasi, rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya (Raudenská et al., 2020).

Transmisi ini dapat terjadi melalui droplet (35%), inhalasi (57%), dan kontak langsung (8.2%) (Jones, 2020). Perlu diketahui juga bahwa penularan aerosol Covid-19 terjadi tidak hanya dalam bentuk batuk atau bersin, tetapi juga pernapasan normal. Sistem ventilasi yang buruk di gedung-gedung rumah sakit, puskesmas, dan fasilitas kesehatan lainnya juga ditengarai meningkatkan risiko paparan Covid-19 kepada petugas kesehatan. Penularan juga dapat terjadi di area nonmedis rumah sakit saat berbicara atau makan. Oleh karena itu, skrining petugas kesehatan secara berkala, bahkan ketika tidak menunjukkan gejala dan terutama di antara mereka yang berisiko tinggi untuk penularan SARS-CoV-2, dapat memungkinkan deteksi dini dan isolasi petugas kesehatan (Çelebi et al, 2020).

Pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik indonesia No HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (Covid 19) tenaga kesehatan beresiko terpapar harus segera dilakukan pelacakan kontak erat petugas dengan yang lain. Pelacakan kontak pada petugas kesehatan :

  1. Petugas kesehatan yang memberikan perawatan langsung kepada pasien harus dinilai risikonya secara teratur.
  2. Pada petugas kesehatan yang memenuhi kriteria kontak erat direkomendasikan untuk: berhenti bekerja sementara, segera dilakukan pemeriksaan RT-PCR sejak kasus dinyatakan sebagai kasus probable atau konfirmasi dan melakukan karantina dan monitoring secara mandiri selama 14 hari.
  3. Petugas yang terpapar tetapi tidak memenuhi kriteria  kontak erat maka dapat terus bekerja. Petugas sebaiknya melaporkan secara rutin kondisi pribadinya (ada atau tidak gejala, komorbid, kemungkinan paparan dan sebainya) kepada penanggung jawab di fasyankes masing- masing.
  4. Petugas kesehatan yang kemungkinan terpapar COVID-19 dari luar (bukan dari fasyankes) tetap harus  mengikuti  prosedur yang sama.

Related posts