Strategi Efektif Menurunkan Angka Stunting

Sumber:alasangker.buleleng.desa.id/2024

Hnews.id | Anak-anak Indonesia sedang bergulat dengan masalah serius yang disebut stunting, yang disebabkan oleh kekurangan gizi yang sudah berlangsung lama. Prevalensi stunting sangat tinggi, hal ini menunjukkan bahwa sejumlah besar anak menderita kekurangan gizi kronis, sehingga menghambat pertumbuhan dan perkembangan mereka. Tindakan segera sangat penting untuk mengatasi masalah ini. Laporan Studi Status Gizi Indonesia yang dirilis Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa angka kejadian stunting di Indonesia mengalami penurunan dari 27,7% pada tahun 2019 menjadi 24,4% pada tahun 2021, dan selanjutnya menurun menjadi 21,6% pada tahun 2022. Namun, sebagian besar kasus , yaitu 6%, masih lazim terjadi pada anak usia 3-4 tahun. Meskipun ada perbaikan, angka tersebut masih jauh dari target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu kurang dari 20%. Oleh karena itu, pemerintah tegas dalam komitmennya untuk menurunkan angka stunting menjadi 17% pada tahun 2023 dan 14% pada tahun 2024.

Penurunan prevalensi stunting di tingkat nasional didorong oleh berbagai faktor yang berbeda-beda di setiap negara. Meskipun demikian, ada beberapa faktor penting yang memerlukan perubahan kebijakan dan program aksi untuk mempercepat kemajuan dalam mengurangi stunting, meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak, dan pada akhirnya mencapai tujuan kesehatan dan gizi yang digariskan dalam SDGs 2030. Sejumlah studi kasus dari berbagai negara, seperti “Stories of change in nutrition” dan “Stop Stunting in South Asia” telah menggarisbawahi pentingnya kepemimpinan yang efektif, langkah-langkah politik dan kebijakan, komitmen kelembagaan terhadap perubahan, dan investasi strategis yang paling menyasar masyarakat. kelompok rentan dan mengatasi faktor risiko utama pertumbuhan anak. Penting juga untuk menerapkan rencana aksi multisektoral untuk memerangi malnutrisi secara efektif.

Stunting tidak hanya berdampak pada kesehatan namun juga membawa dampak sosial dan ekonomi yang besar. Dampak stunting pada anak sangat besar, mempengaruhi pertumbuhan fisik, perkembangan mental, sistem kekebalan tubuh, dan kesejahteraan mereka secara keseluruhan. Selain itu, anak-anak yang mengalami stunting sering kali menghadapi tantangan akademis dan menderita dampak jangka panjang terhadap produktivitas dan stabilitas ekonomi. Faktor-faktor mendasar yang berkontribusi terhadap stunting mencakup pendapatan keluarga dan pendidikan orang tua, dengan penekanan khusus pada pendidikan ibu. Selain itu, terdapat pengaruh langsung yang berkontribusi terhadap stunting, seperti penurunan angka kesuburan, jarak kelahiran, tinggi badan ibu, berat badan lahir bayi, variasi pola makan, dan prevalensi diare.

Untuk mengatasi masalah malnutrisi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengembangkan daftar lengkap Tindakan Gizi Esensial yang mempertimbangkan keadaan spesifik dan kemajuan dalam tujuan nutrisi global, sehingga memberikan negara-negara kerangka kerja berbasis bukti untuk mengatasi masalah malnutrisi. penyebab yang mendasarinya.

Beberapa di antaranya termasuk:

1.Menilai situasi, memperkirakan kebutuhan dan menganjurkan Tindakan

Langkah awal dalam memprioritaskan intervensi gizi adalah melakukan analisis situasi untuk menilai situasi gizi dan memahami faktor-faktor mendasar yang berkaitan dengan makanan, kesehatan dan perawatan.

2.Prioritaskan masalah dan tindakan gizi

Tantangan dalam penetapan prioritas adalah memutuskan bagaimana dana yang terbatas harus digunakan untuk mencapai tujuan kesehatan dan gizi, dan mengambil keputusan tersebut secara sistematis, berbasis bukti, dan transparan. Penetapan prioritas mencakup pemberian prioritas pada identifikasi masalah gizi dan tindakan untuk mengatasi masalah gizi tertentu.

3.Terjemahkan prioritas ke dalam kebijakan dan tindakan: menetapkan dan mengoperasionalkan strategi nutrisi nasional

Ketika prioritas kondisi dan intervensi gizi telah ditetapkan, hal tersebut harus dikonkretkan dalam bentuk strategi atau rencana aksi gizi, yang akan memberikan arah dan visi, serta tujuan dan sasaran secara keseluruhan, untuk mendorong tindakan perbaikan gizi di masa depan. Perencanaan strategis tersebut harus diikuti dengan operasionalisasi strategi, dalam bentuk perencanaan operasional.

4.Monitor dan Evaluasi

Monitor adalah proses pengumpulan data secara berkelanjutan, untuk menganalisis kemajuan pelaksanaan kegiatan, dan juga mengidentifikasi permasalahan yang relatif cepat dapat diperbaiki. Evaluasi didasarkan pada data pemantauan, dan mungkin memerlukan data tambahan, untuk menilai secara berkala apakah hasil (dampak) yang diinginkan dari intervensi/strategi telah tercapai.

Referensi :

  1. Putri Sri Eka Cesaria (ed). 2023. “Menurunkan Stunting dan Bahayanya Bagi Anak Hingga Negara Perlu Dicegah”, radartegal.disway.id, 15 Juni 2023. https://radartegal.disway.id/read/656843/mengenal-stunting-dan-bahayanya-bagi-anak-hingga-negara-perlu-dicegah. Diakses pada 16 Februari 2024.
  2. Rokom, R. S. (2023). Prevalensi Stunting di Indonesia Turun ke 21,6% dari 24,4%. Sehat Negeriku Sehatlah Bangsaku. Retrieved from : https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20230125/3142280/prevalensi-stunting-di-indonesia-turun-ke-216-dari-244/.
  3. Roediger R, Hendrixson DT, Manary MJ. A roadmap to reduce stunting. Am J Clin Nutr. 2020 Sep 14;112(Suppl 2):773S-776S. doi: 10.1093/ajcn/nqaa205. PMID: 32851394; PMCID: PMC7487425.
  4. World Health Organization. (2019). Essential nutrition actions: mainstreaming nutrition through the life-course.
  5. Zulfiqar A Bhutta, Nadia Akseer, Emily C Keats, Tyler Vaivada, Shawn Baker, Susan E Horton, Joanne Katz, Purnima Menon, Ellen Piwoz, Meera Shekar, Cesar Victora, Robert Black, How countries can reduce child stunting at scale: lessons from exemplar countries, The American Journal of Clinical Nutrition, Volume 112, Supplement 2, 2020, Pages 894S-904S, ISSN 0002-9165, https://doi.org/10.1093/ajcn/nqaa153

Top of Form

Related posts