NasDem Meminta Pesantren Tak Melindungi Santri yang Diduga Pelaku Penganiayaan

Hnews.id | Ahmad Sahroni, Wakil Ketua Komisi III DPR RI, menyerukan agar Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al Hanifiyyah di Mojo, Kediri, Jawa Timur, tidak memberikan perlindungan kepada santri yang diduga melakukan penganiayaan hingga menyebabkan kematian rekannya.

“Saya meminta pesantren untuk membuka pintunya bagi polisi untuk melakukan pemeriksaan. Jangan lindungi pelaku, mereka harus dihukum setimpal,” ujar Sahroni pada Selasa (27/2/2024).

Sahroni, yang juga Legislator NasDem dari Dapil Jakarta III (Jakarta Utara, Jakarta Barat dan Kepulauan Seribu), menekankan agar para pelaku segera mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum, tanpa mendapat perlindungan dari pesantren.

Dia menyayangkan kejadian kekerasan di lingkungan pesantren, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam mencegah insiden semacam itu.

“Terutama di pesantren, santri tidak dapat pulang kapan saja. Mereka berada di pesantren selama 24 jam. Oleh karena itu, pesantren bertanggung jawab penuh untuk melindungi santrinya dari tindakan bullying dan bahkan pembunuhan,” tegas Sahroni.

Sahroni menilai bahwa kejadian penganiayaan yang berujung pada kematian biasanya dimulai dari tindakan bullying yang dibiarkan. Menurutnya, pihak sekolah atau pesantren seharusnya menyadari hal ini.

“Pelaku biasanya melakukan aksi bullying berkali-kali sebelum akhirnya melakukan penganiayaan. Bagaimana mungkin korban tidak pernah mengeluh? Atau apakah para pengajar tidak bisa melihat tanda-tanda tersebut?” ujarnya.

Sahroni juga mempertanyakan kecurigaan terhadap ketidakbolehan membuka jasad korban.

“Ketidakbolehan membuka jasad korban sangat mencurigakan. Oleh karena itu, saya mendesak agar pesantren bersikap transparan, membantu polisi dalam penyelidikan, dan tidak menyembunyikan apapun,” tambahnya.

Sebelumnya, seorang santri Pondok Pesantren PPTQ Al Hanifiyyah di Mojo, Kediri, Jawa Timur berinisial BBM, 14 tahun, meninggal dunia karena diduga menjadi korban penganiayaan oleh rekannya. Santri tersebut, yang berasal dari Kampung Anyar, Banyuwangi, ditemukan tewas dengan tubuhnya lebam dan luka robek saat dipulangkan kepada keluarganya.

Awalnya, pihak pesantren mengatakan bahwa korban meninggal karena jatuh di kamar mandi. Namun setelah diselidiki, ternyata korban meninggal karena dianiaya. Kini Kapolres Kediri Kota AKBP Bramastyo Priaji mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menangkap empat tersangka terkait kasus ini. [ary]

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *